Home ยป Subnetting

Subnetting

Pengertian Subnetting

Subnetting adalah proses membagi suatu jaringan besar menjadi beberapa sub-jaringan yang lebih kecil yang disebut subnet. Tujuan utama subnetting adalah untuk mengoptimalkan penggunaan alamat IP yang tersedia dan meningkatkan efisiensi jaringan. Dengan subnetting, administrator jaringan dapat mengelola jaringan dengan lebih efisien, mengontrol lalu lintas jaringan, dan meningkatkan keamanan. Subnetting juga membantu mengurangi beban lalu lintas broadcast di jaringan yang besar.

Perbedaan VLAN dan Subnet

VLAN (Virtual Local Area Network) dan subnet (subnetting) adalah dua konsep yang berbeda dalam pengelolaan jaringan komputer. Berikut adalah perbedaan antara keduanya:

  1. VLAN (Virtual Local Area Network):
    • VLAN adalah metode untuk membagi satu jaringan fisik menjadi beberapa jaringan logis yang terpisah.
    • VLAN memungkinkan pengelompokan perangkat dalam jaringan berdasarkan fungsi, departemen, atau aplikasi tanpa memandang letak fisik perangkat tersebut.
    • VLAN dapat membantu meningkatkan keamanan jaringan dan mengoptimalkan kinerja dengan membatasi lalu lintas jaringan yang melewati VLAN tertentu.
  2. Subnet:
    • Subneting adalah proses membagi jaringan IP besar menjadi sub-jaringan yang lebih kecil.
    • Subneting membantu mengatur alamat IP secara efisien dengan memungkinkan penggunaan alamat IP yang terbatas dengan lebih efisien.
    • Subneting juga membantu dalam mengelola lalu lintas jaringan dengan membatasi jumlah perangkat yang terhubung ke dalam satu subnet.

Dalam rangkaian jaringan yang kompleks, VLAN dan subnetting sering digunakan bersama-sama untuk meningkatkan efisiensi dan keamanan jaringan.

Fungsi Subnetting

Subnetting memiliki beberapa fungsi penting dalam pengelolaan jaringan, antara lain:

  1. Optimasi Penggunaan Alamat IP: Subnetting memungkinkan administrator jaringan untuk membagi jaringan IP besar menjadi beberapa sub-jaringan yang lebih kecil, sehingga mengoptimalkan penggunaan alamat IP yang tersedia.
  2. Pemisahan dan Pengelompokan: Dengan subnetting, perangkat dalam jaringan dapat dikelompokkan berdasarkan fungsi, departemen, atau lokasi fisik, yang memudahkan dalam manajemen jaringan.
  3. Efisiensi Lalu Lintas: Subnetting membantu mengatur lalu lintas jaringan dengan membatasi jumlah perangkat yang terhubung dalam satu subnet, sehingga mengurangi jumlah lalu lintas yang harus ditangani oleh setiap perangkat.
  4. Keamanan: Dengan subnetting, administrator dapat menerapkan kebijakan keamanan yang berbeda untuk setiap subnet, sehingga memperkuat keamanan jaringan secara keseluruhan.
  5. Mengurangi Lalu Lintas Broadcast: Subnetting membantu mengurangi jumlah perangkat yang menerima paket broadcast, sehingga mengurangi beban lalu lintas broadcast di jaringan.
  6. Skalabilitas: Dengan subnetting, jaringan dapat lebih mudah diperluas atau diubah sesuai dengan kebutuhan tanpa harus mengubah struktur jaringan secara keseluruhan.

Dengan fungsi-fungsi tersebut, subnetting menjadi salah satu teknik yang penting dalam manajemen jaringan modern untuk mengoptimalkan kinerja dan keamanan jaringan.

Tujuan Subnetting

Tujuan utama subneting adalah untuk mengoptimalkan penggunaan alamat IP yang tersedia dan meningkatkan efisiensi jaringan. Dengan subneting, administrator jaringan dapat mengelola jaringan dengan lebih efisien, mengontrol lalu lintas jaringan, dan meningkatkan keamanan. Subneting juga membantu mengurangi beban lalu lintas broadcast di jaringan yang besar.

Secara lebih detail, berikut adalah beberapa tujuan utama subnetting dalam pengelolaan jaringan:

  1. Optimasi Penggunaan Alamat IP: Subneting memungkinkan penggunaan alamat IP yang terbatas dengan lebih efisien. Dengan membagi jaringan IP besar menjadi sub-jaringan yang lebih kecil, subnetting menghindari pemborosan alamat IP yang tidak terpakai.
  2. Pemisahan dan Pengelompokan: Subneting memungkinkan administrator jaringan untuk mengelompokkan perangkat dalam jaringan berdasarkan fungsi, departemen, atau lokasi fisik. Hal ini memudahkan dalam manajemen dan pemeliharaan jaringan.
  3. Kontrol Lalu Lintas: Dengan membagi jaringan menjadi subnet, administrator dapat mengontrol lalu lintas jaringan dengan lebih efektif. Setiap subnet dapat diberikan kebijakan lalu lintas yang berbeda sesuai dengan kebutuhan, seperti pengaturan bandwidth atau akses ke sumber daya jaringan tertentu.
  4. Keamanan: Subneting memungkinkan penerapan kebijakan keamanan yang berbeda untuk setiap subnet. Hal ini memperkuat keamanan jaringan dengan membatasi akses antar subnet dan mencegah penyebaran serangan jaringan.
  5. Pengurangan Lalu Lintas Broadcast: Dalam jaringan yang besar, lalu lintas broadcast dapat menjadi beban yang berat bagi perangkat jaringan. Dengan subneting, lalu lintas broadcast dibatasi hanya pada subnet tertentu, sehingga mengurangi beban lalu lintas broadcast secara keseluruhan.
  6. Skalabilitas: Subneting membuat jaringan lebih mudah diperluas atau diubah sesuai dengan kebutuhan. Administrator dapat menambahkan subnet baru atau mengubah ukuran subnet tanpa harus mengubah struktur jaringan secara menyeluruh.

Dengan tujuan-tujuan tersebut, subnetting menjadi teknik yang penting dalam pengelolaan jaringan modern untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan skalabilitas jaringan.

Proses Subnetting

Proses subneting melibatkan beberapa langkah, berikut adalah langkah-langkahnya:

  1. Pemilihan Jumlah Subnet yang Dibutuhkan: Tentukan berapa banyak subnet yang dibutuhkan untuk jaringan Anda. Hal ini dapat ditentukan berdasarkan jumlah departemen, lokasi fisik, atau fungsi dalam organisasi Anda.
  2. Pemilihan Jumlah Host per Subnet: Setelah menentukan jumlah subnet, tentukan berapa banyak host yang dibutuhkan dalam setiap subnet. Pastikan untuk mengambil jumlah host yang cukup untuk setiap subnet, tetapi hindari pemborosan alamat IP.
  3. Konversi ke Binary: Ubah jumlah subnet dan host per subnet ke dalam bentuk biner. Hal ini membantu dalam proses pemilihan ukuran subnet yang tepat.
  4. Penentuan Ukuran Subnet: Tentukan ukuran subnet yang tepat berdasarkan jumlah subnet dan host per subnet yang telah Anda tentukan sebelumnya. Ukuran subnet ditentukan oleh jumlah bit yang dialokasikan untuk host dan subnet.
  5. Penetapan Alamat IP untuk Setiap Subnet: Tentukan rentang alamat IP untuk setiap subnet berdasarkan ukuran subnet yang telah ditentukan sebelumnya. Pastikan tidak ada tumpang tindih antara rentang alamat IP subnet yang berbeda.
  6. Penetapan Alamat IP untuk Router: Tetapkan alamat IP untuk router antara subnet-subnet, biasanya menggunakan alamat IP yang berada di subnet yang sama dengan antarmuka router ke subnet tersebut.
  7. Pengaturan Perangkat: Terapkan konfigurasi subneting pada perangkat jaringan seperti router, switch, dan komputer untuk mengaktifkan subneting dalam jaringan.
  8. Pemantauan dan Pemeliharaan: Setelah subnetting diimplementasikan, lakukan pemantauan dan pemeliharaan secara berkala untuk memastikan jaringan beroperasi dengan baik dan tidak ada masalah yang muncul.

Klasifikasi Subnetting

Klasifikasi subneting berdasarkan beberapa kriteria, antara lain:

  1. Berdasarkan Ukuran Subnet:
    • Subnetting Mask: Subnetting mask adalah panjang dari subnet yang dibuat. Misalnya, subneting mask /24 akan membuat subnet dengan 256 alamat IP yang tersedia.
    • CIDR (Classless Inter-Domain Routing): CIDR adalah cara untuk merepresentasikan subneting dengan menyertakan panjang subnet pada alamat IP, seperti 192.168.1.0/24.
  2. Berdasarkan Jumlah Host:
    • Fixed-Length Subnet Mask: Subnet dengan panjang mask tetap, seperti /24, yang memiliki jumlah host yang tetap.
    • Variable-Length Subnet Mask (VLSM): Subneting dengan panjang mask yang bervariasi untuk mengakomodasi jumlah host yang berbeda di subnet yang berbeda.
  3. Berdasarkan Penggunaan IP Address:
    • Private Subnetting: Subneting yang menggunakan alamat IP privat, seperti 10.0.0.0/8, 172.16.0.0/12, dan 192.168.0.0/16.
    • Public Subnetting: Subneting yang menggunakan alamat IP publik yang dialokasikan oleh organisasi pengaturan alamat IP global, seperti ICANN.
  4. Berdasarkan Fungsi Jaringan:
    • LAN Subnetting: untuk jaringan lokal (LAN) di dalam organisasi atau perusahaan.
    • WAN Subnetting: untuk jaringan area luas (WAN), seperti subnetting yang digunakan oleh penyedia layanan internet (ISP).

Contoh Subnetting

Mari kita ambil contoh sederhana subnetting dengan menggunakan IPv4. Misalkan kita memiliki jaringan IP 192.168.1.0/24 (subnet mask 255.255.255.0) dan kita ingin membagi jaringan ini menjadi empat subnet yang lebih kecil.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Tentukan Jumlah Subnet: Kita akan membagi jaringan menjadi empat subnet, sehingga kita membutuhkan dua bit tambahan untuk subnetting. (2^2 = 4 subnet)
  2. Hitung Subnet Mask Baru: Subnet mask baru akan menjadi /26 karena kita menggunakan dua bit tambahan untuk subnetting. (24 (subnet asli) + 2 (bit subnet tambahan) = 26)
  3. Hitung Jumlah Host: Setiap subnet akan memiliki 62 host (2^6 – 2, karena dua alamat IP digunakan untuk alamat jaringan dan broadcast).
  4. Tentukan Rentang Alamat IP untuk Setiap Subnet:
    • Subnet 1: 192.168.1.0/26 (192.168.1.0 – 192.168.1.63)
    • Subnet 2: 192.168.1.64/26 (192.168.1.64 – 192.168.1.127)
    • Subnet 3: 192.168.1.128/26 (192.168.1.128 – 192.168.1.191)
    • Subnet 4: 192.168.1.192/26 (192.168.1.192 – 192.168.1.255)

Dengan melakukan subneting ini, kita telah membagi jaringan 192.168.1.0/24 menjadi empat subnet yang lebih kecil, masing-masing dengan 62 host yang tersedia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top